Menyandingkan anomali data curah hujan historis Kabupaten Tulungagung dengan tren fluktuasi harga pangan untuk mendeteksi potensi risiko pasokan dan estimasi pergerakan harga.
Koefisien korelasi Pearson antara curah hujan dan harga Cabai Rawit adalah r = 0,24 (Hubungan Positif Lemah). Angka ini mencerminkan asosiasi linier sampel tanpa mengimplikasikan hubungan sebab-akibat langsung.
Curah hujan merupakan salah satu faktor agroklimat yang perlu dipantau, namun belum cukup menjelaskan dinamika perubahan harga secara keseluruhan karena harga pangan juga dipengaruhi biaya input produksi, tren musiman, dan kelancaran pasokan antar-daerah.
Curah hujan ekstrem, baik berlebih maupun rendah, berpotensi meningkatkan risiko fluktuasi harga melalui gangguan produksi, kebusukan pascapanen, atau hambatan distribusi. Disarankan melakukan pemantauan berkala terhadap stok dan jalur distribusi.